Pentadu Timur: Retribusi TPI Berjalan Lancar, Jalan-nya Justru Hancur

GP BOALEMO, Tajuk — Pentadu Timur, Bukan desa yang gemerlap, bukan pula yang sunyi. Ia hidup dengan nafas laut, dengan debur ombak, dan dengan harapan yang setiap pagi beradu dengan aspal yang tak pernah ada.
Di sanalah satu-satunya jalan. Satu-satunya. Bukan alternatif, bukan pintas. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan nelayan dengan tempat pelelangan ikan, ibu-ibu dengan pasar, anak-anak dengan sekolah, dan mayat-mayat dengan pemakaman. Jika jalan ini mati, maka desa ini tercekik.
Namun jalan itu kini rusak total. Bukan retak, namun berlubang bisa di katakan hancur. Tanahnya terkoyak, airnya menggenang, dan di setiap tikungan, kecelakaan bukanlah kabar langka. Bukan soal harta yang hilang, tetapi nyawa yang hampir melayang. Para pemuda sudah bergotong royong menimbun dengan tanah gunung, hanya saat Idul Fitri atau pesta rakyat tiba. Karena hanya di momen itulah mereka berani berharap jalan itu layak dilalui. Selebihnya? Mereka pasrah.
Di sisi lain, TPI yakni Tempat Pelelangan Ikan yang dikelola Provinsi masih tetap berdenyut. Setiap pagi retribusi mengalir, baik berupa PNBP kapal jaring yang dikonversi dari hasil tangkapan, Parkir motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000, dari ratusan kendaraan yang keluar-masuk.
Pemasukan itu signifikan. Tidak sedikit. Cukup untuk membeli aspal, cukup untuk memperbaiki badan jalan, cukup untuk menyelamatkan warga dari terperosok lubang yang sama setiap hari. Tapi uang itu tak pernah kembali ke jalan yang menjadi akses satu-satunya menuju tempat mereka mencari rezeki.
Pengurus TPI dari Provinsi dan Kabupaten seakan tutup mata, Mereka tahu. Mereka melihat. Mereka melewati lubang yang sama. Namun tidak ada satu pun yang berhenti, turun, atau bertanya “Siapa yang akan mati di sini besok?”
Karena inilah persoalannya: bukan soal jalan rusak. Ini soal sistem yang diam. Sistem yang membiarkan retribusi mengalir deras, tetapi keselamatan warga mengering di pinggir jalan. Sistem yang membiarkan warga menjadi pemasok uang, sekaligus korban tanpa pernah diberi hak paling dasar berupa jalan yang layak untuk pulang hidup-hidup.
Pentadu Timur hanya punya satu jalan.
Dan jalan itu sampai hari ini, masih menunggu.
Menunggu mata yang mau melihat.
Menunggu telinga yang mau mendengar.
Menunggu hati yang mau bergerak.
Karena jika mereka yang berkuasa tetap diam, maka jalan ini akan terus menelan korban sampai suatu hari, kecelakaan itu bukan lagi kabar, melainkan nama yang kita kenal.







