Trending

Kebijakan tak membaca denyut: uang berputar, tapi jalan dibiarkan mati

GP BOALEMO — Pentadu Timur Menyimpan denyut kehidupan yang tak pernah benar-benar tidur. Dari jalan yang membentang menuju pelelangan ikan juga UPP Tilamuta, ribuan langkah menggantungkan harapan pada jalur yang kini perlahan kehilangan kelayakannya.

Di atas aspal yang retak dan lubang yang menganga, para nelayan berangkat menjemput rezeki, buruh bongkar muat memikul kehidupan, sementara roda-roda motor para pekerja terus dipaksa berdamai dengan jalan yang lebih menyerupai jebakan daripada akses penghubung ekonomi.

Padahal, kawasan pelelangan dan UPP Tilamuta bukan sekadar titik aktivitas biasa. Tempat itu adalah dapur bagi banyak keluarga. Di sana uang berputar, tenaga dipertukarkan, dan harapan hidup disandarkan. Dari kapal jaring, pengusaha ikan motoran, hingga buruh kapal kargo, semua bergerak dalam denyut ekonomi yang ikut menghidupkan daerah.

Namun ironis, di tengah besarnya peran dua sektor tersebut, akses jalan yang menjadi urat nadi justru tampak seperti cerita lama yang terus dibiarkan usang. Seolah kerusakan yang setiap hari dipandang mata telah berubah menjadi pemandangan biasa yang kehilangan makna daruratnya.

Adapun pengakuan Warga kecelakaan lalu lintas bukan lagi kabar asing di jalur tersebut. Ada yang terjatuh saat hujan menutup lubang dengan genangan, ada pula yang harus menanggung kerugian akibat kendaraan rusak. Jalan itu perlahan seperti meminta tumbal dari mereka yang setiap hari berjuang mencari nafkah.

Masyarakat berharap perhatian tidak hanya hadir dalam wacana, tetapi juga dalam tindakan nyata. Sebab jalan bukan sekadar hamparan aspal, ia adalah penghubung kehidupan. Ketika akses utama dibiarkan rusak terlalu lama, maka yang tersendat bukan hanya kendaraan, tetapi juga harapan masyarakat yang menggantungkan masa depan di jalur itu.

Show More
Back to top button