Tiga Alat Berat Diduga Milik Eks Presma UNG di PETI Dengilo, Wahyu Pilobu Desak Polda Gorontalo Bertindak

Gopublish.co.id – Gorontalo. Dugaan keterlibatan mantan Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berinisial AI dalam aktivitas tambang ilegal kembali jadi buah bibir.
Kali ini bukan sekadar isu biasa—AI dituding memiliki tiga unit alat berat jenis excavator yang beroperasi secara aktif di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Dengilo, Kabupaten Pohuwato.
Tak tinggal diam, aktivis muda Gorontalo, Wahyu Pilobu, angkat bicara lantang. Ia mendesak Polda Gorontalo segera turun tangan dan memeriksa AI, yang namanya mulai santer disebut-sebut dalam aktivitas tambang yang ditengarai merusak lingkungan dan mengabaikan hukum.
“Kalau memang benar AI punya tiga alat berat di PETI Dengilo, itu artinya dia bukan cuma pelaku, tapi juga dalang yang menikmati keuntungan besar dari kerusakan lingkungan. Polda Gorontalo harus bergerak,” tegas Wahyu dalam pernyataan sikapnya.
Menurut Wahyu, keberadaan alat berat tersebut bukan isapan jempol belaka. Ia mengaku telah melihat langsung aktivitas ekskavator yang diduga milik AI.
“Bukti visual ada. Saksi lapangan juga ada. Pertanyaannya sekarang : berani atau tidak Polda Gorontalo menindak?” tanya Wahyu tajam.
Yang membuatnya makin geram, AI dikenal sebagai mantan pemimpin mahasiswa yang dulu vokal menentang ketidakadilan dan kerusakan lingkungan. Kini, sosok yang dulunya dielu-elukan di panggung demonstrasi justru dituding terlibat dalam kejahatan ekologis.
“Ini ironi! Dulu orasi soal moralitas dan keadilan, sekarang malah diduga jadi bagian dari mafia tambang. Jangan jadikan status sebagai eks aktivis sebagai tameng dari jerat hukum,” sindir Wahyu.
Sementara itu, publik menunggu sikap tegas dari Polda Gorontalo. Jika benar ada alat berat milik eks Presma UNG di PETI Dengilo, maka ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengungkap jaringan besar di balik maraknya pertambangan ilegal di Gorontalo.
“Polda tidak boleh jadi penonton. Ini momentum untuk menunjukkan bahwa hukum tak tunduk pada nama besar,” pungkas Wahyu Pilobu.
Hingga berita ini diturunkan, AI belum memberikan klarifikasi atas tuduhan tersebut. Upaya konfirmasi yang dilakukan media melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon juga belum direspons.







